Home

Data

Menu

Artikel

Lapor!

Home

Data

Menu

Artikel

Lapor!

Bagikan :

Dinas Kebudayaan Gelar Pameran Tenun Songket: Ajakan Selamatkan Warisan Alor

Dinas Kebudayaan Kabupaten Alor resmi membuka Pameran Temporer Tenun Songket yang digelar di Museum Daerah Alor Seribu Moko. Pameran yang berlangsung mulai 15 hingga 21 November, ini menjadi ruang penting untuk mengangkat kembali nilai-nilai warisan tenun songket Alor yang kini menghadapi tantangan serius akibat berkurangnya jumlah penenun.
Kegiatan pembukaan dimeriahkan dengan fashion show tenun songket di halaman museum. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai unsur penting pemerintahan dan masyarakat, antara lain:
Wakil Bupati Alor
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Alor
Ketua DPRD Kabupaten Alor beserta Ibu
Para Staf Ahli Bupati
Sejumlah Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD)
Tokoh masyarakat dan tokoh adat
Pimpinan sekolah SMA, SMK, SMTK
Peserta lomba dan parade tenun
Mahasiswa serta pemerhati budaya
Hadirnya berbagai pihak ini menjadi penanda kuat bahwa pelestarian songket bukan hanya urusan penenun, tetapi tanggung jawab kolektif masyarakat Alor
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Alor, Sophia B. Loro, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur karena kegiatan ini dapat terlaksana melalui dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Non-Fisik untuk Museum dan Taman Budaya dari Kementerian Kebudayaan.
“Kami bersyukur, tahun 2025 Alor masih diberikan kepercayaan mengelola DAK. Bahkan untuk tahun 2026, kami kembali mendapat dana bantuan. Di tengah minimnya transfer dana dari pusat, perhatian ini menjadi ruang bagi kami untuk terus menjaga budaya Alor, termasuk songket,” ujar Sophia.
Sophia menegaskan bahwa fokus pameran tahun ini adalah tenun songket karena jumlah penenunnya terus menurun. Tenun songket yang ditampilkan berasal dari Kui, Batu Lolong, dan Kolana, sementara tahun berikutnya direncanakan melibatkan Pantar, Kenon Ika, dan daerah lain.
Ia berharap pameran dan fashion show ini menjadi daya tarik bagi anak-anak sekolah, mahasiswa, hingga komunitas muda, agar mereka kembali menggunakan dan mencintai produk budaya lokal.
“Kami ingin generasi muda tidak merasa ketinggalan saat memakai songket. Bahkan, kami berharap ada yang tertarik menjadi penenun,” jelasnya.
Pameran juga menampilkan parade tenun bersama penenun, memberi kesempatan kepada publik untuk melihat langsung kreativitas rumit pembuatan songket—karya yang motifnya tidak digambar terlebih dahulu, melainkan lahir langsung dari imajinasi penenun di atas alat tenun.
Sophia menekankan pentingnya penggunaan tenun Alor di berbagai momentum resmi dan harian. Ia mengajak pemerintah daerah mempertimbangkan kebijakan hari penggunaan pakaian adat, termasuk dalam agenda DPRD, sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian budaya.
“Tenun kita tidak kalah dari daerah lain. Jika kualitas terjaga, orang bukan hanya beli sekali, tetapi kembali lagi dan lagi,” tegasnya.
Selain menjaga kelestarian budaya, ia menyebutkan bahwa tenun songket memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga penenun, terutama jika didukung oleh generasi muda dan kebijakan publik.
Untuk memperkuat pelestarian jangka panjang, Dinas Kebudayaan juga merencanakan penulisan buku tenun songket yang akan mengulas motif khas Kui, Kolana, dan Batu Lolong pada tahun 2026, dilanjutkan dengan motif-motif lain pada 2027. Dokumen ini akan menjadi sumber belajar bagi generasi mendatang dan bahan muatan lokal untuk sekolah-sekolah.
Di akhir sambutan, Sophia mengajak masyarakat untuk tetap menjadi penjaga warisan budaya.
“Setiap hati yang mencintai Alor akan menjaga tenunannya. Mari lestarikan songket sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan kita. Dengan semangat Alor Berkemas, kita rawat warisan kita bersama,” tutupnya.
Salam budaya. Lestarikan Warisan Tenun Songket Alor. (#Aty)
Sumber Artikel: Zonalinenews

Bagikan :

explore the world travel adventure flyer template

Agenda

book-3043275_1280
Agenda Coba
Selengkapnya

Pengumuman

tlp_hero_banners-4ee457a41ec5c9a3ff7d870ac465b9bf
Pengumuman coba Pengumuman coba Pengumuman coba
Selengkapnya